Pemuliaan Tanaman Buah
1.
Pemuliaan Apel.
Kesuksesan pemuliaan tanaman buah
yang umumnya merupakan tanaman tahunan adalah merupakan kombinasi seni dan
ilmu. Sebagai contoh pemuliaan apel di Western Australia, yang merupakan
pemuliaan buah apel terbesar dan terlama di Australia. Proyek penelitian
pemuliaan apel di Western Australia telah dikenal luas secara nasional dan
internasional sebagai salah satu program pemuliaan yang inovatif dan maju di
dunia. Proyek ini terdiri dari sekelompok ahhli, tenaga professional dan
standar kualitas yang tidak ada saingannya di seluruh Australia. Para ahli
didukung dengan kondisi polinasi yang ideal pada saat pembungaan dan pilihan
varietas yang sangat banyak. Program pemuliaan apel ini berpusat di Manjimup,
300 kilometer selatan Perth, telah menjadi pusat pemuliaan buah.
Pemuliaan tanaman apel di Western
Australian dimulai dengan pemuliaan skala kecil yang didanai oleh Departemen
Pertanian Western Australian di Stoneville Research Station di Perth Hill,
tahun 1972 – 1985. Program pemuliaan ini menghasilkan 700 – 1200 bibit per
tahun dimana lebih dari 16.000 benih ditanam. Hampir semua persilangannya
adalah Lady Williams x Golden Delicious. Hasil akhir dari program ini adalah
dirilisnya Pink Lady dan Sundowner. Pink Lady sejak saat itu menjadi varietas
utama di dunia dan tergolong apel premium, dengan warna semburat pink dan
rasanya yang khas ‘crunchy’ atau renyah dengan sedikit rasa asam (Gambar 1 dan
2).
Koleksi plasma nutfah sangat penting
dalam pengembangan varietas. Sampai tahun 1999 di Manjimup ada 50.000 tanaman
apel yang dikoleksi di lapang. Setiap tahun dilakukan evaluasi terhadap pohon –
pohon apel yang dikoleksi untuk kemudian diseleksi lebih lanjut. Berikut tabel
seleksi apel di WA.
Tahun Jumlah Pohon yang dievaluasi Seleksi lanjutan
Tahun Jumlah Pohon yang dievaluasi Seleksi lanjutan
Inisiatif baru dalam pemuliaan apel
adalah dengan memanfaatkan bioteknologi. Meskipun program pemuliaan sangat kuat
berdasarkan metode konvensional, metode bioteknologi sudah mulai digunakan.
Penelitian awal dipusatkan pada 4 area utama, yaitu penggunaan bioteknologi
untuk:
- Analisa parental
- Genetik fingerprinting untuk varietas baru
- Pemuliaan dengan bantuan penanda gen (marker assisted
breeding) dan
- Pengendalian sintesa etilen dalam penyimpanan
Keempat kegiatan tersebut merupakan
kerjasama Departemen Pertanian Western Australia dengan SABC (State
Agricultural Biotechnology Centre) di Murdoch University, Perth.
Bacaan selanjutnya
Bacaan selanjutnya
- Download Presentasi buah dan apel (PPT)
- Paper Genetic Improvement of Apple (DOC)
- Trubus online, http://www.trubus-online.co.id
2
Pemuliaan Jeruk
Asal Citrus/Jeruk adalah Asia
Tenggara.
Jeruk berasal dari Asia Tenggara, dimana saat ini jeruk menjadi salah satu buah terpenting di dunia. Jeruk juga ditanam di daerah lain di dunia, kurang lebih di 100 negara. Pada tahun 1995, the Food and Fertilizer Technology Center melakukan survey metode produksi yang digunakan oleh petani jeruk di berbagai negara. Hasil survey menunjukkan bahwa hasil per unit area di Asia lebih rendah dibandingkan negara – negara Barat, sedangkan biaya produksi dan pemasaran relatif tinggi. Produksi sebesar 40 mt/ha tidaklah dianggap sangat tinggi di negara Barat, sebaliknya rata – rata produksi di Korea adalah 26 mt/ha, di Thailand 15 mt/ha, dan di Taiwan hanya 15 mt/ha. Persetujuan WTO yang mendesak era baru perdagangan bebas dunia, membuat sangat penting bagi industri jeruk di negara Asia untuk menjadi lebih kompetitif. Ini memungkinkan petani untuk memperoleh tempat di pasar domestic di jaman liberalisasi dan jika memungkinkan memperluasnya.
Jeruk berasal dari Asia Tenggara, dimana saat ini jeruk menjadi salah satu buah terpenting di dunia. Jeruk juga ditanam di daerah lain di dunia, kurang lebih di 100 negara. Pada tahun 1995, the Food and Fertilizer Technology Center melakukan survey metode produksi yang digunakan oleh petani jeruk di berbagai negara. Hasil survey menunjukkan bahwa hasil per unit area di Asia lebih rendah dibandingkan negara – negara Barat, sedangkan biaya produksi dan pemasaran relatif tinggi. Produksi sebesar 40 mt/ha tidaklah dianggap sangat tinggi di negara Barat, sebaliknya rata – rata produksi di Korea adalah 26 mt/ha, di Thailand 15 mt/ha, dan di Taiwan hanya 15 mt/ha. Persetujuan WTO yang mendesak era baru perdagangan bebas dunia, membuat sangat penting bagi industri jeruk di negara Asia untuk menjadi lebih kompetitif. Ini memungkinkan petani untuk memperoleh tempat di pasar domestic di jaman liberalisasi dan jika memungkinkan memperluasnya.
Selain biaya produksi yang tinggi
dan hasil yang rendah, produksi citrus di daerah ini memiliki masalah serius
dalam hal penyakit, terutama penyakit greeding dan virus, sehingga umur pohon
relatif pendek. Dalam hal lama waktu yang diperlukan oleh pohon jeruk untuk
mencapai kedewasaan, memperpanjang umur pohon memberi kontribusi yang penting
untuk meningkatkan persentase kebun buah yang produktif, dan mengurangi biaya
produksi. Masalah lain adalah kurangnya varietas yang bagus, kurangnya bibit
tanaman yang bebas penyakit, dan kebutuhan teknik penanaman yang tepat sehingga
petani dapat lebih mengontrol saat panen, sehingga dapat menghindari produksi
musiman yang berlebihan.
Keinginan untuk meningkatkan
produksi jeruk sangat bagus, karena permintaan sangat besar untuk menyerap
produksi, tanpa menurunkan harga. Ada 2 cara utama untuk mencapainya,
memperbaiki teknik budidaya dan pemuliaan untuk mendapatkan varietas unggul.
Dalam prakteknya, kedua strategi ini harus diaplikasikan bersama.
Pemuliaan untuk mendapatkan varietas baru.
Pemuliaan untuk mendapatkan varietas baru.
Ada beberapa masalah dalam pemuliaan
jeruk untuk mendapatkan varietas unggul. Dari 4 grup utama citrus (jeruk
manis/sweet orange, mandarin, jeruk besar/grapefruit dan jeruk limau/lemon),
hanya satu, mandarin, yang merupakan spesies sejati. Tiga grup lainnya adalah
hibrida interspesifik yang tidak dapat diperbaiki dengan teknik pemuliaan
konvensional. Bahkan pada mandarin, salah satu varietas mandarin, Satsuma,
dihasilkan dari mutasi, bukan dari pemuliaan selektif, yang membuat perbaikan
sifat menjadi sangat sulit. Adalah penting untuk memperoleh informasi genetik
yang lebih sistematik tentang varietas yang ada, juga tentang sifat yang ingin
dimanipulasi pemulia.
Masalah lain dalam pemuliaan
varietas jeruk adalah lamanya periode pohon untuk mencapai kematangan, dan
ukuran pohon jeruk yang besar. Kedua faktor ini berarti bahwa pemuliaan
cultivar baru memerlukan areal lahan yang besar dalam periode waktu yang panjang,
dan ini menambah biaya. Faktor biologi lain yang juga membatasi pengembangan
cultivar baru adalah ketidakserasian seks dan sterilitas, dan nucellar embryony
yang biasa terjadi.
Di Jepang, satu varietas, mandarin
Satsuma, mewakili 75% produksi jeruk. Banyak usaha telah dilakukan untuk
menganekaragamkan varietas, termasuk beberapa varietas baru, tapi tidak
berhasil. Beberapa kultivar baru telah dikembangkan pada abad ini di Jepang
yang memiliki kualitas buah superior, tapi produktivitas rendah. Jeruk –jeruk
ini cenderung menyukai kondisi iklim yang hangat. Beberapa pemulia jeruk
menyarankan bahwa pemuliaan jeruk di Jepang di masa depan harus menekankan
tidak hanya pada kualitas dan produksi buah, tapi juga kemampuan kultivar untuk
beradaptasi di kisaran iklim yang luas.
Program Pemuliaan di masa yang akan
datang
Konservasi plasma nutfah sangat
vital, termasuk varietas – varietas yang sekarang digantikan dengan cepat oleh
varietas yang lebih unggul. Pemulia tanaman jeruk di Jepang, sebagai contoh, sekarang
memproduksi hibrida interspesifik jeruk dan juga microcitrus. Jeruk – jeruk ini
tidak langsung dapat digunakan untuk buah, karena rasanya yang tidak enak, tapi
menjanjikan sebagai rootstock (batang bawah). Yang juga penting adalah spesies
liar yang masih memiliki hubungan dekat, banyak diantaranya memiliki nilai
ekonomi kecil atau tidak langsung bernilai. Beberapa spesies hampir punah
karena habitat alaminya dihancurkan. Adalah sangat penting untuk melakukan
konservasi plasma nutfah. Juga penting dilakukan pemetaan gen (genetic
mapping), dan juga mengklarifikasikan hubungan filogenetik dan luasan keragaman
genetik pada jeruk dan keluarganya.
Pertukaran materi genetik antar
negara merupakan faktor penting lainnya. Selain faktor penyakit dan karantina,
satu masalah utama yang membatasi pertukaran plasma nutfah jeruk secara
internasional adalah hak paten sumber daya genetik berdasarkan WTO. Tapi, juga
telah disetujui bahwa semua program pemuliaan jeruk akan diberi kebebasan untuk
mengakses secara luas materi genetik.
Bioteknologi tampaknya sangat
penting dalam pemuliaan varietas baru jeruk. Rekayasa genetika dan perkembangan
lain dalam biologi molekuler menawarkan kemungkinan untuk memperluas jumlah
kombinasi gen, termasuk tanaman transgenic yang memiliki keunggulan tahan
penyakit dan sifat yang penting lainnya. Kultur jaringan juga merupakan teknik
yang penting: regenerasi secara in vitro mungkin menghasilkan mutasi yang
berguna, juga hibrida somatik yang baru untuk batang bawah. Karena hibrida
somatik merupakan tetraploid, teknik ini juga berguna untuk mengembangkan
cultivar batang atas (scion), terutama triploid tanpa biji. Transformasi
genetik akan memudahkan untuk memodifikasi hanya satu sifat terseleksi, tanpa
mengubah sifat lainnya.
Kesimpulan
Kesimpulan
Kenyataan bahwa ribuan metric ton
jeruk yang ditanam di negara Asia menunjukkan keuntungan dan kesuksesan
industri jeruk. Akan tetapi, di banyak negara, produksi menurun belakanang ini,
terutama karena kompetisi impor, termasuk jus jeruk impor. Tekanan dari jeruk
import kemungkinan akan memukul petani jeruk lebih keras lagi di bawah
perjanjian WTO. Juga ada kompetisi dari buah – buah lain yang masuk ke pasar
bersamaan dengan jeruk, juga bahkan kompetisi dari makanan kecil, yang lebih
disukai anak – anak muda dibandingkan buah segar.
Produksi jeruk di masa depan mungkin
dapat diatur, bukan dengan kapasitas produksi petani, tapi oleh kekuatan
permintaan pasar dan oleh tingkat harga. Usaha untuk mengurangi kebutuhan
tenaga kerja dalam produksi jeruk, dengan menggunakan teknologi terintegrasi
dan memperbaiki praktek budidaya, akan menjadi sangat penting. Perbaikan
pengendalian penyakit, sehingga memungkinkan kebun buah di daerah tropis
memiliki masa hidup yang lebih panjang, juga akan memegang peran penting untuk
mengurangi biaya dan membuat petani jeruk di suatu daerah lebih kompetitif.
Penelitian, dan penyampaian hasil
penelitian ke petani, telah memperbaiki baik produksi maupun kualitas jeruk
yang ada dua decade terakhir. Ke depan adalah menjanjikan, khususnya dalam hal
kemampuan kita untuk memproduksi varietas dengan sifat – sifat seperti unggul
tahan hama dan penyakit, kualitas penyimpanan dan rasa yang enak, serta hasil
yang tinggi. Tapi, konservasi plasma nutfah jeruk, khususnya di Asia Tenggara
yang merupakan asal jeruk, harus diberi prioritas.
Bacaan selanjutnya
- Untuk di Indonesia, Penelitian Jeruk ditangani oleh
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika di Tlekung, Malang, http://www.citrusindo.org
- Download Presentasi Citrus breeding (PPT)
- Download Presentasi Buah (PPT)


0 komentar on " "
Posting Komentar